Willy

Mendambakan Seorang Istri Disaat yang Tak Tepat

In Catatan Hidup on April 18, 2012 at 3:02 PM

Kini setelah meniggalnya kedua orang tua, nenek, dan buyut, aku tinggal sendiri di rumah. Semuanya kualkukan sendiri, memasak, mencuci (kadang-kadang ke laundry), bersih-bersih rumah. Bagi aku yang sendirian, rumah dengan 3 lantai ini termasuk teralau besar, ada 3 kamar utama, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, dapur, 3 beranda (setiap lantai ada beranda). Rasanya rumah begitu sepi.

istriDi saat-saat sepi seperti ini tentulah aku memikirkan orang-orang yang kita sayangi, tapi mereka sudah tidak ada dan pasti tidak akan kembali. Saat umur 7 tahun aku kehilangan kedua orang tuaku, rasanya saat itu tidak terlalu kehilangan, aku berpikir bahwa aku adalah oarng yang kuat, namun pasca meninggalnya nenek dan buyut dimana 15 tahun lebih bersama mereka, rasanya berbeda sekali. Hati ini benar-benar remuk, menangis saat memikirkan mereka, bukan karena ditinggal, namun karena rasanya aku kurang begitu berbakti kepada mereka dulu.

Pemikiran selanjutnya tentu aku mendambakan seorang pendamping hidup, di mana kita bisa berkeluh kesah, berbagi cerita, berbagi beban hidup, bekerjasama membangun keluarga yang sakinah warohmah, membantu usaha di rumah. Ya, aku tipe orang yang tidak mau istriku nanti juga bekerja demi menghidupi keluarga,

Cukuplah istriku menjadi serang permaisuri yang mengurus hal-hal halus di rumah

Karena kini aku adalah seorang penjual barang online / pemilik toko online, maka suatu saat nanti bisa lah istri juga ikut membantu di rumah, tanpa perlu kepanasan, berkeringat dan lain sebagainya.

Sungguh aku membutuhkannya, namun saat ini …

Walaupun secara growth atau perkembangan bisnisku cukup baik namun dari segi finansial/keuangan masih belum ada perkembangan yang berarti. Saat pulang ke rumah rasanya ingin bercerita, tapi … he2

Lihat para teman yang sudah menikah di usia dini padahal dari segi keuangan pas-pas-an banget, kemudian beberapa saat bertemu kembali mereka bilang Rejeki Orang Kawin, satu tingkat berikutnya Rejeki punya anak. Mereka mulai  punya kontrakan, kredit rumah buat masa depan, membangun hidup bersama-sama, indah sekali melihatnya saat kita memiliki seorang istri

tapi bagaimanapun juga yang aku lihat sang istri juga ikut berkerja.

Maka dari itu apapun yang terjadi, kini aku sedang bertarung melawan nafsu dan ego pribadiku dan aku yakin apa yang aku jalani ini bukanlah hal yang salah, aku benar-benar ingin menjadikan istriku sebagai permaisuri dimana tiganya adalah meneduhkan segala gundahku, memperlakukanku layaknya seorang raja baginya.

Ah, jadi galau nih

Apa yang kini harus aku lakukan adalah yakin dengan apa yang kini kujalani, aku sudah mengupayakan berbagai cara agar menjadi seorang entrepreneur yang sukses, bahkan keluar dari perusahaan swsta yang bergaji tetap dalam keadaan yang serba minuspun telah kucoba. Aku yakin Allah Maha Melihat, tugasku saat ini adalah lebih mempercayai-NYA

  1. wow….jadi terharu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: