Willy

Memenangkan Perang Harga – Red Ocean

In Perjalanan Bisnis on June 18, 2012 at 9:43 AM

perang hargaSatu hal yang menarik dari bisnis adalah viable adalah bahwa isnis itu hidup. Setiap bisnis mengalami masa-masa kelahiran, balita, bertumbuh dewasa, menua dan akhirnya mati. Ini yang sering disebut orang sebagai business life circle.

Industri yang dulu begitu jaya, seperti disket, kaset, film negatif, sekarang tinggal nama. Sebaliknya, industri baru yang penuh potensi terus bermunculan.

Kita, sebagai pemilik bisnis, harus jeli memperhatikan, bagaimana industri bergerak dan dimanakah posisi relatif perusahaan dibandingkan dengan business life circle tersebut.

Ketika sebuah industri semakin matang, maka akan semakin banyak pemainnya, dan akan semakin tinggi kompetisi, dan akhirnya perang harga tidak dapat terhindari. Semua perusahaan terseret dalam red ocean.

Ajaibnya, red ocean bagi sebuah industri, dapat menjadi blue ocean bagi industri lainnya. Itu yang terjadi pada China. Industri yang padat karya menjadi blue ocean bagi China. Dewasa ini, China memborong hampir semua industri padat karya, berkat efisiensi dan tingkat biaya produksi yang lebih rendah.

Jadi, ada dua cara untuk menyikapi red ocean.

Berkerja Lebih Effisien

Dengan bekerja lebih effisien, dengan menurunkan semua lini biaya, kita memiliki margin yang lebih tinggi pada harga jual yang sama. Atau, kita dapat menurunkan harga jual, dan menjual lebih murah pada tingkat margin yang sama.

Beberapa perusahaan penerbangan murah, yang Anda mungkin sudah kenal namanya, memilih cara ini. Mereka bekerja sangat efesien sehingga dapat menjual harga tiket jauh dibawah harga saingannya. Hebatnya, mereka masih dapat meraup keuntungan berarti.

Membuat Perbedaan

Terutama dengan menonjolkan keunikan dan kekuatan kita.

Garuda Indonesia

Salah satu provider pesawat penerbangan adalah contoh yang bagus. Garuda tidak ikut dalam pertempuran red ocean, tetapi mereka menjual keunikan dan kekuatan berupa, pelayanan, banyaknya flight dan ketepatan waktu. Alhasil, strategi ini berhasil membawa Garuda terbang lebih tinggi.

Menjual keunikan dan berdasarkan kekuatan dapat menjadi sebuah pilihan yang baik. Semakin sebuah keunikan sulit ditiru orang dan semakin bermanfaat keunikan itu, semakin kita dapat menjualnya dengan harga yang jauh lebih baik.

Mohon diingat bahwa keunikan yang mudah ditiru bukanlah sebuah keunikan. Jika sebuah produk atau bisnis tidak berbeda dengan yang lain, apalagi yang disebut sebagai keunikan?

Merupakan tantangan tersendiri, sebagai pemilik bisnis, untuk menemukan keunikan yang tidak mudah ditiru oleh orang lain. Dalam konteks ini, itu sebabnya, saya berfokus pada pelatihan business skill dan know-how.

Seperti yang telah kita bahas pada awal cerita ini, bisnis ini seperti sebuah entitas kehidupan. Generasi sekarang selalu akan digantikan oleh generasi berikutnya, yang umumnya lebih baik.

Adalah sebuah langkah yang cerdik jika perusahaan kita juga mulai mengembangkan produk-produk generasi berikutnya, baik itu berupa pengembangan dari produk sekarang atau berupa produk pelengkap yang sealiran,
yang pada gilirannya dapat menjadi produk utama dari perusahaan.

Generasi-generasi baru ini, akan menjadi penunjang masa depan perusahaan, ketika produk-produk yang ada sudah semakin menua.

Mempersiapkan generasi penerus produk sangat penting. Tidaklah heran kalau banyak perusahan besar menganggarkan dana pada divisi Riset dan Pengembangan mereka.

by: Johny “John” Rusly

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: